Sejenak Berpikir Tuk Menulis Dalam Ruang Pengap Dan Berdebu

Ini adalah pengalaman. Terang saja ini adalah kisah nyata. Hanya sekedar menikmati hidup yang sedang melangkah menuju batas senja-usia di atas sebuah pelanta yang cukup tinggi  dari bumi, dengan menikmati nyiur dan memandang desiran ombak di balik kapal yang berjarak hanya satu inchi saja dari tempatnya, maka berpikir sejenak …

Masih terkenang segunung peluh dan lelah yang pernah tertimbun di balik tumpukan kertas-kertas yang banyak orang menganggapnya itu adalah emas. Dari dahulu hingga kini masih menjadi anggapan yang sempurna untuk mencapai sebuah maksud dalam mendapatkan kekayaan. Dan telah menjadi sebuah tradisi disana yang tak pernah bisa untuk berobah menembus dinding dimensi menjadi lebih baik. Seperti kata pepatah, anjing menggonggong dan khafilah pun berlalu. Karena setiap ada cara dan usaha yang datang mencoba untuk merubahnya menjadi lebih baik, kemudian sirna begitu  saja entah kemana <– seperti hilang ditelan bumi.

Bulan ke bulan terus berlalu dan masih bertahan untuk mencoba berusaha menunjukkan arti sebuah dedikasi. Tapi hanya selalu bisa bertahan dan tak ber-tuan. Tak pernah mampu bergerak dalam ruang-ruang yang berdebu itu untuk mengungkapkan sebuah fakta. Setiap pergolakan yang ada pun seakan mengundang perangkap pada diri sendiri. Tak pernah ada jalan keluar. Dan benar-benar tak pernah ada jalan untuk bisa bernafas dengan sewajarnya. Tiba-tiba seperti merasakan ada sebuah tujuan nista yang mencoba meretakkan sebuah pilar nama <– teman atau lawan kah?

Masih melanjutkan berpikir sejenak untuk menulis…

Mengapa anjing tua itu terus menggonggong pada setiap kesalahan dan khilaf? Menyalak dengan sekeras-kerasnya hingga sang induk anjing yang lehernya berantai itu pun mendengarkan kebenaran hanya di satu sisi daun telinganya saja. Mungkin telinga yang lainnya sudah masuk kategori tidak layak pakai lagi. Atau mungkin juga sudah infeksi atau pun tetanus. Karena mungkin masih lebih baik begitu dari pada tidak mendengarkan sama sekali bagi induk anjing itu sendiri, gumam nya. Tapi begitulah kelanjutannya. Anjing tua itu seperti tak bisa lagi menyembunyikan perasaan senangnya yang melimpah ruah dan menetes di tiap senyum dan tawanya saat mulai bisa  untuk menggigit dan merobek semua sisa-sisa perlawanan dari dalam ruang yang pengap itu atas sebuah pembelaan terhadap sebuah fakta kebenaran.

Semua bermula saat ruang yang pengap itu masih berdinding triplek hingga berubah menjadi dinding tembok. Sejak pertukaran pintu dari sebuah masa-masa yang pernah menjadi biang masalah di masa sebelumnya,  saat itu setiap hari pun seketika berubah menjadi ajang sebuah pertempuran urat di kepala. Sungguh, tak pernah sedikit pun untuk berharap agar mendapatkan sebuah penghargaan. Apalagi “meminta” untuk diperlakukan istimewa. Namun sesungguhnya ini telah menjadi sarapan tersendiri dalam bongkah-bongkah kelelahan yang selalu dibawa pulang sejak dari pagi, sore, ataupun malam dalam meniti sebuah rutinitas menjalani kehidupan.

Masih mencoba melanjutkan untuk berpikir sejenak…

Serta masih tetap mencari cara untuk mendapatkan sebuah nilai kodrat alami sebagai manusia. Karna “ Takkan lari gunung dikejar ”…! cukup nantikan saja sebuah keadilan Tuhan !

( Kembali ke halaman depan atau isi buku tamu )
Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: